Potensi Daerah sebagai Basis Pemberdayaan dalam Pengentasan Kemiskinan




Kemiskinan merupakan indikator makro yang dapat memberikan informasi seberapa banyak penduduk suatu wilayah yang belum sejahtera. Implementasi dan pencapaian pembangunan di bidang sosial dan ekonomi keluarga juga dapat dilihat dari tingkat kemiskinan.


Penjelasan tersebut disampaikan Bahri, SE., MM Dosen Program Studi (prodi) Kewirausahaan Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat Kamis (9/5/2019) pada anggota kelompok UPPKS “Kalipakem Baru” di Desa Seloharjo, Pundong, Bantul, Yogyakarta. Pengabdian ini juga melibatkan mahasiswa prodi Kewirausahaan.


“Untuk menurunkan kemiskinan bisa dimulai dengan dua cara yaitu meningkatkan kemampuan dan meningkatkan pendapatan”, kata Bahri.


Menurut Bahri peningkatkan kemampuan dapat dilakukan dengan menerapkan program life skill yang terdiri dari kemampuan mengelola sumber daya alam, mencari informasi, berhitung, memanfaatkan teknologi, bekerja dalam tim dan mengikuti pelatihan.

“Meningkatkan pendapatan dan penjualan juga perlu menerapkan konsep digital marketing yaitu menyiapkan profil bisnis dan produk, menggunakan fitur google maps, melakukan iklan di facebook dan instagram, memenangkan konsep Search Engine Optimizer (SEO) serta membuat Website atau Blog”, tegas Bahri.


“Untuk menurunkan tingkat kemiskinan diawali dengan peningkatan pendapatan rumah tangga. Dengan begitu Ibu-ibu tidak harus menunggu gaji dari suami saja, akan tetapi juga bisa berpendapatan sendiri dengan berwirausaha, mengolah hasil kebun, hasil pertanian agar bisa bernilai jual tinggi”, ungkap Didik perwakilan dari Kecamatan Pundong.


Mewakili Kelurahan Seloharjo, Nur mengatakan pentingnya peningkatan skill agar ibu-ibu UPPKS “Kalipakem Baru” tidak kalah saing dengan yang lain sehingga diperlukan pengembangan produk-produk dari hasil Desa Seloharjo.


Sementara itu Usmarjo, S.Sos koordinator PLKB Pundong berharap ibu-ibu anggota kelompok UPPKS dapat menyerap dan menerapkan apa yang disampaikan beberapa dosen Kewirausahaan.

“Ibu-ibu harus tahu tentang pemasaran dan penjualan online agar produk-produk dari daerah Pundong bisa dikenal masyarakat luar”, ujar Usmarjo.


Selain itu Bhenu Artha, SE., MM Dosen Prodi Kewirausahaan yang juga menjadi pembicara memaparkan tata tertib administrasi sebagai basis manajemen keuangan UMKM. Dimana fungsi manajemen keuangan ada tiga yakni kegiatan mencari dana investasi untuk mendapatkan laba, kegiatan penggunaan laba dan kegiatan mendistribusikan laba.


“UMKM mempunyai tujuh macam administrasi yang sangat perlu diketahui oleh anggota diantaranya administrasi piutang, administrasi utang, administrasi persediaan, administrasi aset tetap, administrasi kas, administrasi penggajian dan administrasi lainnya yang berkaitan dengan surat masuk, surat keluar dan pecatatan kebijakan dan sewa menyewa aset”, jelas Bhenu.


Lebih lanjut Bhenu menegaskan anggota UMKM perlu melakukan evaluasi hasil usaha dalam laporan keuangan dengan maksud untuk mengetahui posisi keuangan dalam periode tertentu baik aset, modal ataupun sisa hasil usaha (SHU), mengetahui kelemahan UMKM, mengetahui langkah-langkah perbaikan, mengetahui penilaian kinerja manajemen dan sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis tentang hasil yang dicapai.

©HumasWidyaMataram